RECOFTC

Kopi Bantaeng: Kompetitif dengan Menjaga Kelestarian Hutan dan Pertanian Berkelanjutan

12, August 2022
Lasmita Nurana
Kopi membuat kualitas hidup petani dan hutan Bantaeng semakin baik. RECOFTC Indonesia membantu peningkatan kapasitas petani dengan pengetahuan dan praktik pertanian berkelanjutan dan kewirausahaan. Hutan terjaga, produksi kopi berkualitas, dan petani sejahtera.
Notes from the Field
Kopi Bantaeng. Foto: ©RECOFTC Indonesia
Foto: ©RECOFTC Indonesia

Marni adalah seorang petani perempuan dari desa Pabumbungan, Kecamatan Eremarasa, Kabupaten Banteng yang beralih dari menanam jagung menjadi petani kopi. Kini, hidupnya menjadi lebih mudah sejak bertani kopi kurang lebih 15 tahun lalu. Ia mengelola dua hektar lahan yang ditanami kopi arabika yang perawatannya lebih mudah sehingga memberikan penghasilan/pendapatan yang lebih tinggi dibanding jagung.

Foto: ©RECOFTC Indonesia
Marni sedang memetik kopi dari kebunnya di Desa Pabumbungan, Provinsi Sulawesi Selatan. Foto: ©RECOFTC Indonesia

“Saya harus ke kebun setiap hari waktu masih menanam jagung. Begitu beralih menanam kopi, saya bisa ke kebun seminggu sekali, dan harganya tiga kali lipat jagung. Saya hidup lebih baik, menyekolahkan anak sampai membangun rumah berkat kopi,” kata Marni yang sepanjang 2021 menghasilkan 130 liter biji kopi dari kebun yang digarap bersama suaminya.

Kopi merupakan sandaran hidup masyarakat Bantaeng, salah satu penghasil kopi yang utama di Sulawesi Selatan bagian selatan. Praktik pertanian kopi berkelanjutan oleh masyarakat Bantaeng menahan laju deforestasi dan meningkatkan tutupan hutan, sementara pada saat yang sama, kesejahteraan dan keadilan gender di masyarakat sekitar hutan juga semakin membaik.

Pertanian Berkelanjutan: Hutan Terjaga, Petani Sejahtera

Kopi Bantaeng ditanam di dataran tinggi, di hutan-hutan di kaki gunung Moncong Lompobatang. Selama satu dekade, RECOFTC Indonesia bersama para petani Bantaeng mengembangkan pertanian berkelanjutan di hutan setempat. Melalui berbagai pelatihan dan dampingan, RECOFTC Indonesia menjadi jantung upaya pemberdayaan masyarakat dan hutan desa. Dengan dukungan dan fasilitasi RECOFTC Indonesia, masyarakat mendapat keleluasaan yang lebih besar dari pemerintah untuk mengelola hutan melalui izin hutan desa sehingga mereka cukup mengandalkan dari hasil hutan untuk bertahan hidup.

Berbekal pengetahuan baru tentang wanatani dan kewirausahaan, para petani kopi di Bantaeng kini mengubah cara mereka berinteraksi dengan 700 hektar lahan tempat mereka bekerja dan dengan hutan di sekitarnya. Mereka mempelajari diversifikasi tanaman agar lebih tahan menghadapi ancaman banjir dan kekeringan.

Angka perubahan tutupan hutan menjadi monokultur pun berkurang karena masyarakat merasa cukup mengandalkan hasil hutan dari wilayah  yang dikelolanya dan tidak berusaha membuka hutan untuk lahan baru. Wanatani (atau sistem agroforestri) membuat masyarakat tidak mengusik hutan. Pada saat yang sama, kemampuan warga untuk mengelola hutan kopi pun berkembang, kualitas yang dihasilkan juga makin baik.

RECOFTC Indonesia
Demi menjaga kualitas kopinya, para petani anggota Koperasi Akar Tani hanya memetik biji kopi yang merah. Foto: ©RECOFTC Indonesia

Koperasi Akar Tani, Kuatkan Posisi Tawar Petani

Bantaeng memiliki hutan produksi terbatas 1.262 Hektar dan hutan lindung 2.773 hektar. Dengan dukungan RECOFTC Indonesia dan Universitas Hasanuddin, petani kopi Bantaeng mendapatkan izin pengelolaan lahan hutan selama 35 tahun. Berawal dari tiga desa, kini Bantaeng  menjadi salah satu referensi dan pusat studi mengenai hutan desa.

“Bantaeng merupakan kabupaten pertama di Sulawesi Selatan bagian selatan yang memiliki izin pengelolaan lahan hutan.  Dulu kami hanya menanam kopi Robusta, tapi begitu ada izin ini kami bisa menghasilkan kopi Arabika yang harga jualnya lebih tinggi,” kata Hasri, ketua Koperasi Akar Tani yang memasarkan kopi petani Bantaeng. “Saat ini perbandingan produksi Robusta - Arabika di Bantaeng sekitar 50 - 50,” lanjutnya.

Selain praktik wanatani, RECOFTC Indonesia juga memfasilitasi sejumlah program kewirausahaan dan pelatihan untuk pengembangan pemasaran dan branding kopi spesial, peningkatan pengembangan bisnis dan praktik manajemen keuangan, dan pelatihan petani tentang agroforestri yang berkelanjutan.

Pada 2016, petani kopi Bantaeng membentuk Koperasi Akar Tani untuk menjaga harga biji kopi mereka dan untuk menembus pasar yang lebih besar. Koperasi Akar Tani berhasil mendapatkan harga jual yang lebih tinggi bagi petani-petani anggotanya. Akses pada mesin kupas dan roaster terbuka, seiring pelatihan dan informasi yang mengalir sehingga petani dapat meningkatkan kualitas kopinya.

“Koperasi Akar Tani merupakan jalur alternatif bagi petani untuk memasarkan kopi dengan harga jual yang lebih baik. Kami terus mendorong petani untuk menjaga kualitas, hanya memetik dan menjual cherry merah, tidak dicampur yang masih hijau. Petani-petani ini paham bahwa kualitas kopi yang lebih tinggi berarti harga yang lebih tinggi juga,” kata Hasri, Ketua Koperasi Akar Tani. “

Tak hanya transaksi, Koperasi Akar Tani secara tidak langsung juga aktif mengedukasi petani untuk menjaga hutan dan hanya memanen kopi terbaik. Hal ini penting agar kopi dapat dipasarkan dengan harga jual tinggi. 

“Petani kopi adalah konservasionis alami. Mereka mengerti pentingnya pertanian yang berkelanjutan. Tanpa naungan tanaman hutan yang terjaga baik, kopi tidak bisa berproduksi maksimal. Agar hasil kopi baik dan harga jual tinggi, hutan juga harus kami jaga dengan baik,” lanjut Hasri.

Koperasi Akar Tani juga membuka akses modal, termasuk pinjaman pemerintah untuk membantu mendirikan badan usaha. “RECOFTC Indonesia membantu kami untuk mendapatkan dukungan lembaga-lembaga pemerintah. Mereka menyediakan pelatihan, seperti bagaimana melakukan perhitungan risiko dan bagaimana memenuhi peraturan-peraturan pemerintah,” papar Hasri.