RECOFTC

Aplikasi TempoWitness dan Kelestarian Hutan Indonesia

07, August 2020
Lasmita Nurana
Sebagai negara tropis yang terletak pada garis khatulistiwa, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang mengalami banyak bencana alam. Salah satunya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rutin terjadi setiap tahunnya, khususnya saat menjelang musim kemarau.
Notes from the Field

Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan itu selalu menjadi kelompok yang pertama kali mengetahuinya dan merasakan dampaknya. Kondisi ini membuktikan pentingnya pelibatan masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemantauan kebakaran.

Untuk melibatkan masyarakat dalam memantau dan melaporkan kejadian karhutla, media Tempo membuka akses bagi masyarakat melalui aplikasi TempoWitness dengan sistem jurnalisme warga untuk dapat menyuarakan dan menyebarkan fakta-fakta terkait dengan kebakaran hutan dan lahan, upaya pelestarian hutan, dan kegiatan umum yang dilakukan masyarakat maupun pengambil kebijakan di tingkat lokal dan nasional.

RECOFTC/TempoWitness
Salah satu peserta pelatihan TempoWitness di Tanjung Jabung Barat, Jambi, berlatih melakukan dokumentasi video. ©RECOFTC

Penggunaan aplikasi TempoWitness di Tanjung Jabung Barat, Jambi, telah berlangsung sejak Desember 2019. Sebanyak kurang-lebih 20 warga kabupaten setempat yang berasal dari berbagai kelompok dan institusi, termasuk perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Tanjung Jabung Barat), dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tanjung Jabung Barat, telah memiliki dan menggunakan aplikasi ini melalui telepon genggamnya.

Pemantauan secara rutin dan aktif tetap dilakukan oleh tim TempoWitness, Bapak Harry Surjadi dan Bapak Yosep Suprayogi, sejak awal sampai saat ini. Sampai akhir bulan Juli 2020, tercatat sebanyak 82 cerita terpublikasi di website TempoWitness oleh warga Tanjung Jabung Barat. Terlebih lagi, secara keseluruhan, tercatat ada 112 kiriman warga tapi tidak semua bisa dipublikasikan. Hal ini menunjukkan bahwa peserta telah dapat menggunakan aplikasi TempoWitness pada telepon genggamnya dan mengirimkan video atau pun foto sebagai informasi pendukungnya. 

Namun, belum semua masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam memantau dan melaporkan kejadian terkait dengan karhutla. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, antara lain karena kendala teknis, seperti kondisi sinyal, jaringan, perangkat yang tidak mendukung, dan kemampuan mengambil gambar dengan perangkat yang ada.

Tim TempoWitness bersama mitranya di Indonesia, mengadakan pelatihan lanjutan (coaching) secara online pada 5 Agustus 2020 untuk memantau situasi dan mencari solusi dari permasalahan atau tantangan yang mungkin dihadapi oleh warga di Tanjung Jabung Barat, Jambi dalam berpartisipasi mengirimkan foto dan video melalui aplikasi TempoWitness.

Sebanyak 18 peserta dari tiga desa di Tanjung Jabung Barat turut berpartisipasi aktif dalam pelatihan daring tersebut. Mereka berbagi pengalaman, aspirasi, dan pembelajaran yang didapat dalam menggunakan aplikasi TempoWitness.  

M. Yusuf, Badan Penanganan Bencana Daerah Tanjung Jabung Barat, merupakan peserta yang mengirimkan berita paling banyak ke TempoWitness. Beliau mengirimkan 46 berita ke TempoWitness, tapi hanya 41 yang dipublikasikan. “Saya sangat senang menjadi seorang jurnalis warga. Walaupun profesi saya bukan seorang penulis, saya punya hobi menulis dan berbagi cerita. Kegiatan profesi saya selalu berhubungan dengan kebencanaan, mulai dari pencegahan, tanggap bencana, sampai pemulihan; dan saya pikir masyarakat luas perlu tahu lebih banyak tentang hal ini. Hanya saja saat sedang di lapangan dan terlalu fokus dengan pekerjaan, saya jadi sering lupa untuk kirim berita; atau sinyal tidak bagus saat di lokasi, dan kemudian lupa mengirimkan saat sudah ada sinyal lagi.”

Sama halnya dengan Sandi Prabowo, Manggala Agni, yang juga mengalami kendala saat harus fokus di lapangan sehingga tidak bisa mengirimkan berita. Tambahan lagi, ada peraturan yang tidak memperbolehkan penggunaan telepon genggam saat bertugas. “Kadang-kadang beberapa foto dan video yang ingin sekali saya kirimkan secara live ke TempoWitness tapi tidak jadi karena dirasa tidak etis, misalnya saat acara adat atau kegiatan yang sakral.”  

Dua narasumber pelatihan, yaitu Harry Surjadi dan Yosep Suprayogi, memberi penjelasan bahwa terkait dengan kendala jaringan dan sinyal sampai saat ini memang belum ada solusi. Akan tetapi, aplikasi TempoWitness dilengkapi dengan fitur offline, sehingga saat perangkat menemukan jaringan dan kondisi baterai cukup, berita akan otomatis terkirim, walaupun memang masih harus dilakukan secara manual: dengan masuk ke aplikasi dan menekan tombol kirim.

Selain membahas dan mencari solusi untuk setiap  kendala yang disampaikan para peserta, kedua narasumber juga menyampaikan rekomendasi dan teknis dasar menulis yang dapat dengan mudah diterapkan pada aplikasi ini berdasarkan kejadian, peristiwa, atau pun kegiatan sehari-hari di sekitar tempat tinggal.

Salah satu peserta dari Desa Muntialo, Tika Sartika, menyampaikan antusiasme, sekaligus permintaan maafnya karena selama ini hanya bisa mengirimkan empat informasi. ”Saya sangat senang sekali bisa menjadi bagian dalam penggunaan aplikasi ini. Saya jarang sekali bisa menjadi pemberi informasi ke publik. Namun, kondisi pandemi seakan menghilangkan kesempatan untuk berbagi cerita karena kesibukan rumah tangga. Kadang-kadang, kejadiannya sudah lewat, baru teringat bisa didokumentasikan. Tapi, insya Allah, ini segera berakhir dan bisa kembali mengirimkan informasi yang berguna dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar tempat tinggal.

RECOFTC/TempoWitness
Peserta diskusi daring mengenai penggunaan aplikasi TempoWitness dalam berbagi informasi. ©RECOFTC

Kegiatan online ini merupakan rangkaian perkenalan platform Global Forest Watch (GFW), sebuah aplikasi yang memberi kesempatan ke semua anggota masyarakat yang memiliki telepon selular untuk ikut berpartisipasi dalam pemberian informasi awal tentang kebakaran yang mereka lihat.