RECOFTC Indonesia
Stories

Petani Wirausaha: Sukses Pasarkan Kopi Bantaeng dengan Cara Milenial dan Lestarikan Hutan

04 January 2024
Lasmita Nurana
Kopi merupakan sandaran hidup masyarakat Bantaeng. Ditanam di dataran tinggi, di hutan-hutan di kaki gunung Moncong Lompobatang, kopi Bantaeng menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia.
Talk of the Forest
 Foto: ©RECOFTC Indonesia
Foto: ©RECOFTC Indonesia

Tahun 2016, sekelompok petani kopi Bantaeng membentuk Koperasi Akar Tani untuk menjaga harga biji kopi mereka dan untuk menembus pasar yang lebih besar. Koperasi Akar Tani berhasil mendapatkan harga jual yang lebih tinggi bagi petani-petani anggotanya. Akses pada pasar dan teknologi pengolahan kopi terbuka, seiring pelatihan dan informasi yang mengalir sehingga petani dapat meningkatkan kualitas kopinya.

 Foto: ©RECOFTC Indonesia
Hasri, ketua Koperasi Akar Tani, di kebun kopinya di Desa Pattaneteang, Sulawesi Selatan. Foto: ©RECOFTC Indonesia

Bantaeng memiliki hutan produksi terbatas 1.262 hektar dan hutan lindung 2.773 hektar. “Bantaeng merupakan kabupaten pertama di Sulawesi Selatan bagian selatan yang memiliki izin pengelolaan hutan melalui skema Hutan Desa.  Dulu kami hanya menanam kopi Robusta, tapi begitu ada izin ini, kami bisa menghasilkan kopi Arabika yang harga jualnya lebih tinggi,” kata Hasri, ketua Koperasi Akar Tani yang ditemui saat melakukan pemasaran kopi petani Bantaeng. “Koperasi Akar Tani merupakan jalur alternatif bagi petani untuk memasarkan kopi dengan nilai jual yang lebih baik. Kondisi petani saat ini jauh lebih baik berkat mitra-mitra kami, termasuk RECOFTC. Melalui berbagai pelatihan, kami terus mendorong petani untuk menjaga kualitas: bercocok tanam secara agroforestri (atau sistem wanatani), hanya memetik dan menjual ceri atau buah kopi merah, tidak dicampur yang masih hijau. Petani-petani ini paham bahwa kualitas kopi yang lebih tinggi berarti harga yang lebih tinggi juga,” kata Hasri, Ketua Koperasi Akar Tani.

“RECOFTC mendukung masyarakat Bantaeng melalui program kewirausahaan Koperasi Akar Tani, melalui beragam pelatihan, dan pendampingan masyarakat petani kopi hutan. Diharapkan masyarakat Bantaeng bukan hanya mampu mengembangkan sumber penghidupan mereka dari kopi saja, namun juga mampu mencegah deforestasi dan bencana, dan mengembangkan pula keadilan gender,” kata Gamma Galudra, Direktur RECOFTC Indonesia.

Selama kurang lebih satu dekade, RECOFTC mendukung dan memfasilitasi para petani Bantaeng mengembangkan pertanian berkelanjutan di hutan desa. Selain praktik agroforestri, RECOFTC juga memfasilitasi sejumlah program kewirausahaan dan pelatihan untuk pengembangan pemasaran dan branding kopi spesial, peningkatan pengembangan bisnis dan praktik manajemen keuangan, serta pelatihan petani tentang agroforestri yang berkelanjutan.

Pertanian berkelanjutan merupakan pedoman utama petani kopi di Bantaeng. Agar makin kompetitif, kopi Bantaeng juga dikelola dengan gaya milenial, penggunaan teknologi dalam proses penanaman hingga pascapanen dan pemasaran. Dari penggunaan media sosial, pelatihan hingga pengelolaan keuangan, dan proses pascapanen yang terkomputerisasi. Hasilnya, kopi Bantaeng yang dikelola sepenuhnya oleh petani, berjaya melewati masa pandemi.

 Foto: ©RECOFTC Indonesia
Abd. Malik melakukan sangrai biji kopi hasil panen anggota Koperasi Akar Tani. Foto: ©RECOFTC Indonesia

Digitalisasi Koperasi Akar Tani, Kuatkan Posisi Tawar Petani

Berbekal pengetahuan baru tentang wanatani dan kewirausahaan, petani kopi di Bantaeng kini mengubah cara mereka berinteraksi dengan 700 hektar lahan tempat mereka bekerja dan dengan hutan di sekitarnya. Beberapa kelompok tani mempelajari diversifikasi tanaman agar lebih tahan menghadapi ancaman banjir dan kekeringan dan menggunakan sistem digitalisasi dalam produksi kopi dan pemasarannya.

Salah satu ‘influencer’ pertanian berkelanjutan dan teknologi dalam pengelolaan kopi ini adalah Abd. Malik (26). Anak muda asal Desa Balumbung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng ini pernah meraih predikat Petani Milenial Kementerian Pertanian 2021 dengan fokus pada wirausaha kopi. Pada bulan  Mei 2022 dalam Pemilihan Young Ambassador program YESS Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Malik menembus 40 besar dari seluruh Indonesia.

“Saya ingin mengubah mindset bahwa bertani itu pekerjaan yang kotor dan kuno. Dengan teknologi kita bisa mempermudah pekerjaan, sekaligus menjaga kualitas produk yang dihasilkan,” kata Malik, yang saat ini menjabat sebagai Sekertaris Koperasi Akar Tani ini.

Pada bulan November 2021, Malik menerima Hibah Kompetitif Program YESS Bantaeng, dengan bantuan pengadaan mesin sangrai (roasting), giling (grinder), dan kemasan. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi Juara Favorit ke-5 Apresiasi Hibah Kompetitif melalui Usaha Petani Milenial khusus di komoditi kopi. Malik pun mendorong produksi, proses pascapanen, hingga pengelolaan keuangan hingga perencanaan bisnis petani kopi Bantaeng agar semakin mutakhir.

Manajemen dan pencatatan keuangan Koperasi Akar Tani dilakukan dengan aplikasi komputer. Dengan demikian setiap data dapat tercatat dengan detail dan akurat, kesalahan data hingga manipulasi keuangan dapat diperkecil. Proses pengolahan kopi pascapanen juga telah dilakukan secara komputerisasi, dalam proses roasting atau sangrai. Hal ini penting karena kopi yang telah disangrai memiliki harga jual yang lebih baik.

“Kami menggunakan mesin yang dilengkapi komputer, sehingga kita bisa menjaga konsistensi hasil sangrai. Setiap data, mulai dari durasi waktu hingga suhu saat roasting tercatat mendetail secara komputerisasi. Jadi saat pembeli menginginkan kopi disangrai dengan level tertentu atau seperti yang pernah dipesan, datanya sudah ada. Tinggal lakukan sesuai pengaturan yang ada di komputer, jadi tidak ada lagi roasting pakai feeling atau kira-kira,” papar Malik.

Dengan pertanian dan manajemen gaya milenial yang mengedepankan teknologi, kualitas kopi Bantaeng dapat dijaga untuk makin kompetitif. Pemasarannya telah teruji, dapat bertahan menghadapi pandemi. Sejak 2020, Malik dan manajemen Koperasi Akar Tani mengolah kopi Bantaeng dan membangun jejaring pembeli besar untuk penjualan biji kopi (green beans) maupun kopi sangrai (roasted beans) tipe Arabika. Sepanjang tahun 2021, Koperasi Akar Tani mencatat penjualan mencapai 10 ton.

Hal tersebut terutama didukung oleh jejaring petani kopi milenial yang semakin baik. Pada bulan Januari 2022, dengan dukungan RECOFTC, Malik berpartisipasi dalam Festival Pesona, yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Ia mewakili Koperasi Akar Tani dan memperkenalkan kopi Bantaeng. Hasilnya, Koperasi Akar Tani menandatangani kontrak sebagai penyedia (supplier) kopi salah satu perusahaan di ibukota dengan durasi waktu tidak terbatas.

“Kami dapat  bertahan  mengatasi pandemi Covid-19 karena hal itu tidak lagi menjadi hambatan. Kopi tetap bisa terjual karena sudah terkoneksi dalam Asosiasi Kopi Sulselbar,” lanjut Malik.

 Foto: ©RECOFTC Indonesia
Kelompok perempuan ikut terlibat dalam proses produksi kopi dan pelestarian hutan di Sulawesi Selatan. Foto: ©RECOFTC Indonesia

Pertanian Berkelanjutan: Hutan Lestari, Petani Tercukupi

Kopi membuat kualitas hidup petani lebih baik dan hutan Bantaeng semakin lestari. “Petani kopi adalah konservasionis alami. Mereka mengerti pentingnya pertanian yang berkelanjutan. Tanpa naungan tanaman hutan yang terjaga baik, kopi tidak bisa berproduksi maksimal. Agar hasil kopi baik dan harga jual tinggi, hutan juga harus kami jaga dengan baik,” lanjut Hasri.

Angka perubahan tutupan hutan menjadi monokultur pun berkurang karena masyarakat merasa cukup mengandalkan hasil hutan dari wilayah  yang dikelolanya dan tidak berusaha membuka hutan untuk lahan baru. Sistem wanatani membuat masyarakat tidak mengusik hutan. Pada saat yang sama, kemampuan warga untuk mengelola hutan kopi pun berkembang, kualitas yang dihasilkan juga makin baik.

Praktik pertanian kopi berkelanjutan oleh masyarakat Bantaeng menahan laju deforestasi dan meningkatkan tutupan hutan, sementara pada saat yang sama, kesejahteraan dan keadilan gender di masyarakat sekitar hutan juga semakin membaik. “Saya berharap praktik di koperasi kami ini dapat ditiru dan diterapkan juga di daerah lain sehingga semakin banyak hutan yang lestari dan menghijaukan Indonesia,” kata Malik.

RECOFTC siap mendukung peningkatan kapasitas petani melalui berbagai pelatihan untuk pengetahuan dan praktik pertanian berkelanjutan dan kewirausahaan,” kata Gamma Galudra. “Dengan demikian, hutan Indonesia lestari, produksi kopi berkualitas, dan petani sejahtera."

Foto: ©RECOFTC Indonesia
Kopi Bantaeng, hasil produksi Koperasi Akar Tani. Foto: ©RECOFTC Indonesia

 

###

Kegiatan RECOFTC dapat terlaksana berkat dukungan Swiss Agency for Development and Cooperation (SDC) dan Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA).