RECOFTC Indonesia
Cerita

TempoWitness: Jalur Warga Lestarikan Lingkungan dan Hutan

28, March 2022
Lasmita Nurana
Aplikasi TempoWitness memberdayakan masyarakat Tanjung Jabung Barat, Jambi menjadi warga yang aktif mendorong dan memonitor penanganan karhutla serta pengelolaan hutan dan lingkungan melalui jurnalisme warga.
Notes from the Field
Foto: ©RECOFTC Indonesia
©RECOFTC Indonesia

Dalam tiga tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi menunjukkan tren penurunan. Sepanjang 2020, tercatat ada 200 hektar lahan terbakar, jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 39.638 hektar. Menurut data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Provinsi Jambi, sepanjang Januari-Agustus 2021 tercatat  ada 172,9 hektar lahan terbakar; 22,19 hektar di antaranya terjadi di Kabupaten Tanjung Barat (Antara 2021).

Saat terjadi karhutla, respon dan keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan merupakan salah satu kunci keberhasilan penanganannya. Mereka adalah kelompok yang paling terdampak, namun juga yang pertama kali mendeteksi potensi karhutla. Untuk lebih melibatkan masyarakat dalam memantau dan melaporkan karhutla, media Tempo bekerja sama dengan RECOFTC mendorong partisipasi masyarakat di sekitar kawasan hutan di Kabupaten Tanjung Barat melalui aplikasi jurnalisme warga, TempoWitness.

Dengan aplikasi TempoWitness warga dapat menyuarakan dan menyebarkan berbagai fakta terkait kebakaran hutan dan lahan. Tak hanya laporan kejadian karhutla, tetapi juga upaya pelestarian hutan serta persoalan yang mereka hadapi. Selama dua tahun sejak diperkenalkan, penyebaran informasi melalui jurnalisme warga ini tak hanya berhasil mencapai publik, namun juga menolong warga menyebarkan informasi yang dapat dipercaya. Bahkan pandemi tak menyurutkan aktivitas dan dampak positif jurnalisme warga. 

Jurnalisme Warga Hasilkan 103 Laporan

Partisipasi warga melalui TempoWitness diawali pada Desember 2019 dan Januari 2020, saat tim RECOFTC dan TempoWitness memberikan pelatihan jurnalisme pada 20 warga Desa Muntialo, Desa Bram Itam Raya, dan Bram Itam Kanan. Pelatihan ini diberikan pada warga desa yang terlibat langsung dalam pemantauan dan pengendalian kebakaran hutan dan pengelolaan lingkungan, namun tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakan aspirasinya. Peserta pelatihan ini terdiri dari golongan pemerintah sampai ibu rumah tangga.

Awalnya warga mengikuti pelatihan jurnalisme tersebut hanya sebagai kewajiban, demi perintah atasan di tempat mereka bekerja. “Dapat perintah dari atasan untuk ikut, karena kesulitan mencari perwakilan di desa dan syaratnya (memiliki HP Android) cukup sulit,” ungkap Siti Umi Rosidah, Kaur Tata Usaha dan Umum, Pemerintahaan Desa Bram Itam Kanan.

Aktivis penanganan karhutla seperti Sandy Prabowo, Kepala Kantor Da-Ops Manggala Agni Bukit Tempurung dan perangkat desa seperti Imron Rosadi, Kasi Pemerintahan Desa Montialo, mengaku mengikuti pelatihan karena alasan yang sama, perintah atasan. Mereka tidak mengetahui secara detail bentuk dan tujuan pelatihannya.

“Saat dikirimi surat undangan pelatihan sempat didisposisi di KaSi pemerintahan, diminta perwakilan bersama 3 orang dari masyarakat. Awalnya tidak tahu sama sekali pelatihan ini akan seperti apa, murni perintah dari atasan untuk jadi perwakilan,” kata Imron.

Warga dan pegiat karhutla, Usman Hamid Salam Syamsuri mendapatkan perintah sedikit lebih lengkap, untuk mengikuti pelatihan mengenai mitigasi bencana kebakaran hutan. “Saya baru tahu juga ternyata disisipkan materi pelatihan aplikasi TempoWitness sebagai jurnalisme rakyat, untuk melaporkan potensi kebakaran dari aktivitas masyarakat, atau indikasi sebelum kebakaran seperti kekeringan,” ujar Kepala Dusun di Desa Montialo yang mengikuti pelatihan sebagai perwakilan desa ini.

Berawal dari kewajiban mengikuti perintah atasan, pelatihan jurnalisme warga ini menghasilkan 103 laporan warga di TempoWitness (data per Desember 2021), 29 di antaranya terkait dengan kebakaran hutan dan lahan. Dari tidak pernah memberitakan dan diberitakan, masyarakat menjadi subyek dalam penyebaran informasi penanganan karhutla. Mereka memiliki ketrampilan baru, jurnalistik warga sebagai partisipasi dalam upaya pengendalian karhutla.  “Aplikasi memudahkan kita memberitahu masyarakat. Selain itu, Media Tempo merupakan media yang terkenal jadi mudah diterima masyarakat,” kata Sandy.

Usman Hamid Salam Syamsuri, warga Desa Muntialo, menjalankan tugasnya menjaga kelestarian lingkungan dengan memberitakan kegiatan dan informasi terbaru melalui aplikasi TempoWitness. Foto: @RECOFTC Indonesia
Usman Hamid Syamsuri, warga desa Muntialo, aktif menjaga kelestarian lingkungan sekitar dengan memberitakan kegiatan dan kondisi terkini melalui aplikasi TempoWitness. Foto: ©RECOFTC Indonesia

Hambatan Dari Lingkungan Sendiri

Selama dua tahun ini para jurnalis warga aktif memantau dan mewartakan potensi dan penanganan karhutla di lingkungannya sebagai kontributor TempoWitness. Termasuk berbagai kegiatan, program, hingga masalah dan tantangan pengelolaan hutan dan lahan. Aspek teknis dalam produksi berita, seperti mengumpulkan data, menulis dan editing, upload foto, hingga soal sinyal dan koneksi internet yang awalnya dirasa rumit, seiring waktu jadi rutinitas yang mudah.

Dalam perkembangannya, bahkan penulisan laporan dan berita untuk TempoWitness yang menuntut waktu dan tenaga ekstra disamping pekerjaan utama mereka, tak dirasakan sebagai beban. Aktivitas jurnalisme warga untuk TempoWitness justru mendukung pekerjaan sehari-hari mereka sebagai ASN atau aparat desa.

Kesulitan dan tantangan terbesar para jurnalis warga ini justru berasal lingkungan mereka sendiri. Dalam proses peliputan dan pelaporan untuk TempoWitness, warga menemui hambatan yang berasal dari budaya sungkan, tekanan sosial hingga otoritas. Di masa-masa awal mempraktekkan jurnalisme warga, situasi ini cukup menyulitkan para jurnalis baru tersebut.

“Aplikasi ini sangat mendukung pekerjaan saya saat di BPBD. Ketika sudah menjadi ASN di Pemerintahan Desa cukup membuat conflict of interest, saya kurang didukung oleh rekan kerja menulis pemberitaan,” kata M. Yusuf, Staf  Kesejahteraan Rakyat (Ketra) Pemerintahan Desa Muara Tungkal yang juga mantan anggota Satgas Rekasi Cepat BPBD.

Konflik dan kurangnya dukungan lingkungan sekitar terhadap jurnalis warga ini berdampak pada kualitas dan kedalaman berita yang dilaporkan untuk TempoWitness. Mereka kemudian lebih suka memilih jalur aman, melaporkan berita atau kegiatan yang sifatnya seremonial daripada memberitakan informasi kritis namun berpotensi konflik. Terutama bila melibatkan warga atau aparat di lingkungan kontributor atau penulis itu sendiri.

“Saya cukup dilema jika melakukan pemberitaan tentang potensi kebakaran yang berasal dari masyarakat, karena saya yang akan disalahkan. Jadi seringnya saya memberitakan hal yang tidak sensitif seperti kegiatan patroli, pembukaan lahan tanpa bakar, pembangunan desa, dan lainnya. Pada akhirnya cukup jauh dari mitigasi karhutla,” papar Usman.

Usman dan Umi menyadari pelatihan TempoWitness dimaksudkan untuk mendorong penyebaran informasi dan mitigasi kebakaran hutan. Namun potensi konflik dan tekanan sosial sempat membuat mereka memilih main aman, menghindari memberitakan topik-topik sensitif.

“Saya takut jika pemberitaan yang saya angkat menimbulkan kegaduhan. Misal genangan air di parit akibat apa, sampah berserakan karena apa. Berbeda dengan pemberitaan event yang jelas informasinya semacam laporan kegiatan, seperti peresmian suatu hal, kegiatan patroli kebakaran, kegiatan PKK, vaksinasi,” katanya.

Posisi warga, dalam pekerjaan atau instansi desa/pemerintahan pun bisa jadi strategis atau sebaliknya malah jadi hambatan. Yusuf cukup produktif mengirimkan berita, saat bekerja sebagai Satgas Reaksi Cepat BPBD, posisinya strategis untuk mendapatkan informasi karhutla yang cepat dan akurat. Namun sejak beralih profesi menjadi ASN, kuantitas dan kualitas pemberitaannya menurun karena dihadapkan pada etika dan tekanan sosial dari lingkungan kerja.

“Sekarang cukup menurun karena terkendala aturan sebagai ASN bertentangan dengan berita yang saya buat. Bahkan saya dapat teguran ketika ada kegiatan dan saya kirim foto dokumentasinya, ada yang membalas untuk tidak dibuatkan tulisan mengenai kegiatan ini,” ungkap Yusuf.

Profesi, instansi pemerintah dan lingkungan sosial yang mestinya bersinergi dan jadi variabel positif dalam pemberitaan dan penanganan karhutla, tak jarang justru memunculkan tekanan bagi jurnalis warga. “Walaupun ada fitur penutup identitas, orang-orang tahu bahwa yang sering menulis itu saya. Hal ini yang membuat saya ragu, padahal jurnalistik ini kan sifatnya bebas. Dengan posisi saya seperti ini dan tulisan saya mengkritik pemerintah, jadi tidak etis. Kecuali mungkin beritanya mendukung pemerintah,” lanjut Yusuf.

Foto oleh RECOFTC Indonesia
Siti Umi Rosidah dari Desa Bram Itam Kanan merasa bangga menjadi bagian dari pengguna aplikasi TempoWitness yang mendorong kesetaraan dan keterlibatan perempuan dalam penggunaannya. Foto: ©RECOFTC Indonesia

Iklim Keterbukaan Informasi, Tak Surut Oleh Pandemi

Dengan segala tantangan dan hambatannya, selama dua tahun ini jurnalisme warga TempoWitness telah menjadi salah satu media informasi penting yang mendorong partisipasi masyarakat, tak hanya dalam pengendalian karhutla namun juga pengelolaan lahan dan kawasan. TempoWitness membuat distribusi informasi jadi lebih mudah dan akurat. Bukan saja satu arah dari instansi ke masyarakat, namun juga antar warga, bahkan dari masyarakat atau lembaga ke instansi yang lebih tinggi. Bahkan pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir, tidak menyurutkan aktivitas jurnalis warga dalam pewartaannya. Secara kuantitas jumlah berita yang dilaporkan memang menurun, karena kegiatan yang menjadi sumber-sumber berita juga berkurang. Sementara antusiasme dan tingkat keterlibatan warga tidak berubah.

“Tidak ada pengaruh signifikan, hanya kegiatannya saja yang berkurang. Kami tetap berupaya menggunakan aplikasi ini karena sangat membantu memberitakan hal-hal positif di desa,” ujar Imron. “Penulisan berita dapat dimana saja, dan bisa jaga jarak tidak menimbulkan kerumunan,” lanjut Yusuf.

TempoWitness menjadi jalur bagi jurnalis-jurnalis warga seperti Umi, Sandy, Imron, Usman, dan Yusuf untuk tetap aktif mewartakan kegiatan dengan cepat dan mudah, bahkan saat dunia dihajar pandemi Covid-19. Mereka tak hanya menjangkau masyarakat di lingkungannya, namun juga instansi yang lebih tinggi, bahkan mendapat dukungan dan berkolaborasi dengan media massa.

Berbekal pengalaman melakukan liputan untuk TempoWitness, Sandy memproduksi berita untuk RRI, TribunJambi, JakTV, hingga website Ditjen KLHK. “Kami buat berita disertai foto-foto dan dikirim ke mereka, formatnya press release. Untuk web Ditjen KLHK, berita kami kirim ke Balai, diteruskan ke Dinas KLHK Palembang, diteruskan ke Pusat, barulah terbit,” jelas Ketua Da-Ops Manggala Agni Sumatra IX Jambi ini.

TempoWitness mendorong distribusi informasi dengan lebih cepat dan akurat. Apalagi untuk perangkat desa seperti Usman, aplikasi ini sangat berguna dalam mempublikasikan kegiatan dan menjangkau warganya. “Saya sebagai kepala dusun melaporkan kegiatan pembangunan di desa untuk masyarakat. Juga sebagai klarifikasi untuk wartawan atau LSM yang memuat berita yang bertentangan dengan kondisi sebenarnya,” ujar Usman.

“Saya punya akses ke media nasional, walaupun jurnalistik warga, dan mudah untuk dimuat disana. Jadi saya perlu bijak dalam memberitakan suatu hal. Ini sangat bermanfaat ketika ada kegiatan atau peristiwa penting  di Tanjung Jabung Barat dan sekitarnya. Keunggulan TempoWitness yang terkenal dan proses editing redaksi yang cepat, sangat bermanfaat bagi masyarakat dan saya pribadi sebagai penulis. Sangat berguna untuk berbagi informasi karena nama Tempo sangatlah kredibel dan bisa dipercaya,” imbuh Yusuf.

Foto oleh RECOFTC Indonesia
Tim Da-Ops Manggala Agni Sumatra IX Jambi, yang selalu siap siaga menjaga hutan dan lahan di Provinsi Jambi dari kebakaran, melaksanakan apel pagi dipimpin oleh Bapak Sandy Prabowo, SHut. Foto: ©RECOFTC Indonesia